, , ,

Jakarta Peringkat 6 Dunia, Kualitas Udara Tidak Sehat

oleh -316 Dilihat
oleh

Majalah Jakarta Barat – Kualitas udara di Jakarta kembali menjadi sorotan setelah ibu kota Indonesia tersebut tercatat berada di peringkat ke-6 dunia sebagai kota dengan kualitas udara tidak sehat. Kondisi ini memicu kekhawatiran masyarakat karena berpotensi berdampak langsung terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan polusi udara di Jakarta masih menjadi tantangan serius yang membutuhkan penanganan berkelanjutan dan kolaboratif.

Polusi Udara Kembali Memburuk

Kualitas udara Jakarta dilaporkan berada pada kategori tidak sehat, yang berarti konsentrasi polutan di udara telah melampaui ambang batas aman bagi kesehatan manusia. Partikel halus dan gas pencemar menjadi penyumbang utama memburuknya kualitas udara di wilayah perkotaan padat aktivitas ini.

Kondisi tersebut kerap diperparah oleh tingginya aktivitas kendaraan bermotor, emisi industri, pembakaran terbuka, serta faktor cuaca yang kurang mendukung penyebaran polutan.

Dampak Langsung terhadap Kesehatan Warga

Udara tidak sehat berpotensi menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari iritasi mata dan tenggorokan, batuk, sesak napas, hingga memperburuk penyakit pernapasan kronis. Dalam jangka panjang, paparan polusi udara juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung dan paru-paru.

Masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas luar ruangan saat kualitas udara memburuk serta menggunakan masker pelindung bila harus beraktivitas di luar.

Kualitas udara
Kualitas udara

Baca juga: DPRD DKI Usul Bansos Dicabut untuk Keluarga Pelaku Tawuran

Kendaraan Bermotor Jadi Penyumbang Utama

Salah satu faktor utama pencemaran udara di Jakarta adalah emisi kendaraan bermotor. Tingginya jumlah kendaraan pribadi dan kemacetan lalu lintas berkontribusi signifikan terhadap pelepasan gas buang berbahaya ke udara.

Selain itu, aktivitas industri di sekitar wilayah Jabodetabek turut memberikan andil terhadap akumulasi polutan di atmosfer Jakarta.

Tantangan Pengendalian Polusi Udara

Upaya pengendalian polusi udara di Jakarta menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pertumbuhan kendaraan yang cepat, keterbatasan transportasi publik di beberapa wilayah, hingga kepatuhan terhadap regulasi lingkungan.

Meski sejumlah kebijakan telah diterapkan, seperti uji emisi kendaraan dan pengembangan transportasi massal, hasilnya dinilai belum sepenuhnya mampu menekan tingkat polusi udara secara signifikan.

Perlu Langkah Terintegrasi dan Berkelanjutan

Pengamat lingkungan menilai, permasalahan kualitas udara di Jakarta tidak bisa diselesaikan dengan solusi jangka pendek. Dibutuhkan langkah terintegrasi dan berkelanjutan, melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku industri, serta partisipasi aktif masyarakat.

Penguatan transportasi publik ramah lingkungan, pembatasan kendaraan pribadi, pengawasan emisi industri, serta peningkatan ruang terbuka hijau menjadi sejumlah langkah strategis yang terus didorong.

Peran Masyarakat dalam Mengurangi Polusi

Selain kebijakan pemerintah, peran masyarakat juga dinilai penting dalam menekan pencemaran udara. Penggunaan transportasi umum, berbagi kendaraan, beralih ke kendaraan rendah emisi, serta mengurangi pembakaran sampah menjadi kontribusi nyata yang dapat dilakukan warga.

Kesadaran kolektif dinilai menjadi kunci dalam memperbaiki kualitas udara Jakarta secara bertahap.

Harapan Jakarta dengan Udara Lebih Sehat

Masuknya Jakarta dalam jajaran kota dengan kualitas udara tidak sehat di tingkat dunia menjadi peringatan serius bagi semua pihak. Masyarakat berharap pemerintah dapat memperkuat kebijakan pengendalian polusi udara secara konsisten dan transparan.

Dengan komitmen bersama dan langkah nyata, Jakarta diharapkan mampu keluar dari daftar kota berpolusi tinggi dan menghadirkan udara yang lebih bersih dan sehat bagi seluruh warganya.

Skintific

No More Posts Available.

No more pages to load.